Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Tarian Kemarau





Matahari mencapai puncaknya saat gadis dengan kaki gemetar melangkah ke tengah ladang kering kerontang. Dadanya bergemuruh bagaikan embusan badai di musim salju. Laksana deru es memeluk angin kencang yang menghantam setiap gubuk kecil yang hanya memiliki kayu bakar terakhir dengan api menyala sendu. Tapi itu semua hanya berlangsung dalam benak sang dara. Tidak pernah ada badai salju di tanah mereka. Meskipun ada, dan andaikan badai salju tersebut akan memorak-porandakan gubuk mereka, itu jauh lebih baik ketimbang puncak kemarau yang tengah melanda sekarang.

Setidaknya, jika musim dingin itu terjadi, aku tidak perlu mengalami ketakutan seperti sekarang, batinnya.

Tangannya menggenggam sebatang bambu dengan ujung runcing yang bahkan tidak pernah ditatapnya. Dari jarak tidak terlalu jauh darinya, pemuda berusia dua tahun lebih muda darinya menghunuskan pedang, tatapannya mengandung nafsu untuk mengalahkannya dalam sekali tebasan. Gadis itu, Matilda namanya, hanya berani menatap getir, tidak mampu menyembunyikan ketakutan yang bersemayam pada kedua bola matanya, membiarkan sang pemuda meraup sisa-sisa harapan yang dia miliki… kalau masih ada.

***

“Aku sudah memutuskan…,” tatapannya melayang ke atas kasur, saudara lelakinya terbaring tak berdaya di sana, “aku yang akan menggantikan Victor pada Turnamen Tarian Kemarau nanti,” lanjutnya dengan pelan namun tegas.

Seketika gubuk yang hanya memiliki satu obor sebagai penerangan itu hening. Sebuah keheningan yang menyayat hati, bagaikan permainan suling dalam upacara kematian di Halfland yang dilangsungkan secara turun-temurun hingga sekarang. Dan keheningan itu dipecahkan oleh isak tangis teredam salah seorang adik perempuannya.

“Ba… bagaimana mungkin aku membiarkanmu turun dalam turnamen itu, Matilda?! Setelah apa yang dialami Victor dua tahun yang lalu pada turnamen yang sama?!” pekik Hilde, adiknya.

***
  
Gemuruh penonton di pinggir ladang membuyarkan ingatannya yang tadi sempat berkelana menyusuri masa beberapa hari sebelum dirinya berada di pusat keramaian ini. Pandangan Matilda bergerak menyusuri penonton, barangkali adik-adiknya ada di antara kerumunan mereka, menontonnya. Meskipun beberapa kali ia mengharapkan tidak ada satupun kerabatnya yang akan menangisi darahnya yang tertumpah di atas retakan tanah ladang panas dan kering.

*** 

“Victor tidak pernah muncul sejak kekalahannya dua tahun lalu, aku tidak dikenal oleh mereka. Dan aku yakin, mereka tidak akan pernah memedulikan apakah Victor atau siapa pun yang akan mewakili rumah ini dalam turnamen.” Dadanya seolah berapi, bagaikan ranting dan daun kering di puncak musim panas yang terkadang membakar dirinya sendiri. “Aku tidak akan pernah membiarkan mereka membawa Victor yang lemah.” Suara Matilda tersekat. 

Dia bisa membaca pikiran Hilde, bahkan Magdalena adik bungsunya yang bisu dan hanya menatap dirinya dengan berkaca-kaca. Satu-satunya pilihan yang paling memungkinkan adalah membiarkan Victor masuk ke dalam pertandingan, dengan begitu bisa memuluskan jalan kakak sulung mereka menuju kehidupan selanjutnya hingga tidak lagi merasakan kesakitan. Itu adalah satu-satunya pilihan, hingga Matilda mencetuskan niatnya untuk menggantikan posisi Victor, mengenakan jubah dan baju zirahnya, memasang ikat kepala hitam sebagai pertanda bahwa dia pernah menjalani pelatihan militer bersama banyak pemuda di tanah Halfland beberapa waktu silam.

***

Tarian Kemarau, pesta akbar pemanggil hujan di mana awal mulanya para cenayang dan pertapa percaya, bahwa bumi di puncak kemarau pada siklus dua tahunan meminta persembahan. Semua pemilik rumah harus mempersembahkan pemuda mereka sebagai peserta. Darah yang membasuh retakan-retakan tanah pada ladang gandum akan kembali menyuburkan, mengundang hujan turun mengguyur tanah mereka. Raja dan panglima perang turut menabuh genderang, dengan menjadikannya sebagai pesta rakyat dan ladang untuk mencari kesempatan merekrut para perwira baru—mengabaikan yang mati atau terluka parah, ya, tentu saja, Victor adalah contohnya.

“Ini akan sangat mudah untuk diselesaikan,” geram pemuda bernama Vlad.

Satu tebasan pedang menggores lengan Naya, darah menetes pada ujung pedang perak itu. Seringai muncul pada bibir Vlad, barangkali tengah membayangkan dua puluh keping emas yang akan ia dapatkan jika melewati babak pertama, lalu dua ratus jika dia sanggup melesat di babak kedua, dan dua ribu emas jika berhasil memenangkan pertandingan ini sampai selesai.

***

"Aku yang wajahnya paling mirip dengan Victor, aku yang bertanggung jawab menjaga kalian setelah Victor tidak mampu melakukannya. Dan aku, adalah seorang pekerja di dapur istana. Melakukan itu bahkan mungkin akan semudah menebas daging kalkun atau mencincang biri-biri sebagai makan siang para pekerja di istana." Suara Matilda melemah dan bergetar.

Hilde hendak meneriakkan tangisnya, namun ditahan karena tidak ingin membangunkan kakaknya yang tengah tidur terkulai lemah. Hanya Magdalena yang bangkit. Air matanya sudah diusap dengan punggung tangannya, tangan mungil itu mengambil sebilah belati, membuat kedua kakaknya terkejut dengan apa yang dilakukan si bungsu bisu mereka.

***

Satu tebasan lagi menerabas ke arah kiri, namun tindakan impulsif sang gadis, secekatan saat ia menghampiri tungku ketika air rebusan kepala kambing yang ada di dalamnya mendidih dan hendak meluap dan menyimburkan air untuk memadamkan apinya di bawah panci, secepat itulah ia mengelak dari serangan yang baru ini. Dadanya masih berdebar. Gadis itu terkejut, lawannya gemas dengan upaya pembelaan dirinya.

“Orang yang bangkit dari sekarat bisa juga membela diri? Apa kabar Victor? Lelah dengan tidur panjangmu?” ejek Vlad kepadanya.

Gemuruh kembali melanda dada Matilda. Ia tahu yang dirinya lakukan hanyalah perlu diam, sediam yang Magdalena lakukan, untuk memerankan skenario ini.

Untuk memenangkan babak dalam pertempuran, petarung hanya perlu menjatuhkan dan memerahkan tanah dengan darah lawan. Hanya itu. Tapi, jarang menemukan para petarung baik hati yang mau membiarkan lawannya terjatuh saja. Dan Matilda telanjur berjanji pada Magdalena untuk melakukan satu hal.

Dua kali lengan kanannya tertebas, yang ini cukup dalam. Ini hanya seperti tergores pisau daging! batinnya meyakinkan diri. Tapi Matilda masih berdiri dengan kedua kakinya. Tombak yang menjadi senjata membantunya untuk bertahan.

SRET!

Vlad memotong bambunya hingga terbelah menjadi dua, Matilda berdiri limbung tanpa tumpuan bersandar. Bambunya menyisakan setengah. Matanya menyalang, menatap tegas wajah lelaki itu. Dengan kekuatan entah datang dari mana, gadis itu akhirnya bersuara.

“Aku tidak akan membiarkan nyawaku dihargai hanya dengan dua puluh keping emas!”

Vlad terkejut mendengar suara perempuan, dan saat ia lengah itulah si gadis kidal memindahkan bambunya. Dengan ujung yang terbelah ia menggoreskan luka di tempat yang sama dengan yang didapatnya. Bunyi pedang berkelontang jatuh, satu kaki sang gadis menendang dada sang lawan dan membiarkan pemuda itu terjerembab di tanah. Darah lawannya telah membasahi bumi, masuk ke dalam rongga tanah yang retak.

“Kau! Bisa-bisanya!”

Gemuruh suara dan tabuhan gendang semakin memekakkan telinga saat mereka telah mendapatkan pemenangnya.

Setidaknya, Matilda telah menepati janji pada adiknya, dan ia tahu bahwa Magdalena akan melaksanakan janji yang ia minta, di malam saat gadis itu memotong rambut panjang miliknya.


***

Mata Magdalena berkaca-kaca, namun tangannya sigap, mencengkeram pirang platina berombak milik kakaknya. Terdengar bunyi gesekan rambutnya dengan belati… dan kini jatuh ke atas lantai kamar tempat mereka berkumpul di malam itu. Hilde berlari keluar kamar dan berlari ke peraduannya sendiri. Dari bawah, raungannya masih terdengar samar. 

“Jadi, kau merestuiku, Magdalena?”

Gadis itu mengangguk, namun belatinya dengan cekatan memotong rambut panjang Matilda. Dia tahu, jika ingin menggantikan peran Victor, Matilda harus melakukannya dengan sempurna.

“Jika aku menjadi korban nanti, kaulah yang akan menggantikan peranku di rumah ini.” Matilda menahan suaranya supaya tetap tenang. “Hilde, biarkan dia memupuk dan meraih mimpinya untuk menjadi seorang istri pekerja istana. Biarkan dia menempuh jalannya. Tapi kau, kau harus percaya, Victor akan pulih. Aku percaya itu. Kau hanya perlu bersabar dan terus merawatnya….”

Suaranya terhenti karena adiknya menatap wajahnya lekat, Matilda melihat kesungguhan yang tidak pernah dilihat sebelumnya pada gadis tiga belas tahun itu.

“Aku berjanji, nyawaku tidak akan kubiarkan hanya seharga dua keping emas saja.”



_____
Pernah di-posting di sini, diubah sesuai kebutuhan. Sumber gambar.

Senandung Lirih



Lelaki itu memilih gitar, di antara berbagai macam opsi yang mungkin bisa direngkuhnya untuk menginterpretasikan dua penggal kata yang tengah mewakilinya saat ini: patah hati. 


Minggu depan aku menikah.

Ia bisa saja menjatuhkan pilihan pada bir yang terkesan lebih gentle bagi sebagian orang. Namun lelaki itu lebih bisa memaknai kata gentle lebih baik ketimbang sebagian orang yang tadi. Baginya, menghilangkan kesadaran sementara dengan minuman keras hanya untuk orang-orang lemah, yang tak sanggup menaklukkan badai tornado yang berkecamuk dalam diri. Bukannya tidak mengharapkan untuk dapat menghapus jejak ingatan, justru sang lelaki tengah berjuang menghapuskan memori yang melekat kuat dalam dinding-dinding, pada jalanan yang sunyi maupun di tengah kemacetan, di ujung gang atau jalan tol yang tak bercabang. Setiap sudut kota memiliki kenangan tentang gadisnya, yang ingin disapunya dalam sekali usapan. Bahkan setiap helai udara, nama perempuan itu akan selalu didengarnya. Lirih, bernyanyi dan bersenandung, dalam puncak kemarau atau di tengah hujan. Menarikan tarian kenangan yang berpusar pada diri sang dara, sementara si laki-laki terombang-ambing hingga mabuk dan nyaris mati... ya, dia sudah mabuk tanpa pernah menyentuh bir. Jadi, jika hakikatnya dia telah menyerahkan sedikit kewarasannya untuk mengaku kalah dengan keadaan, untuk apa lagi zat adiktif itu direguknya?


Maaf cuma bisa kasih tahu lewat bbm.


Pemuda itu juga bisa memilih aspirin untuk meredakan nyeri di kepalanya, atau analgesik yang menghilangkan sakit tanpa harus membayar momen kehilangan kesadaran. Tapi melupakan kenangan tidak semudah minum obat tiga kali satu dalam sehari. Tidak segampang tertidur untuk berharap saat bangun luka yang menganga akan kering. Tidak semudah itu. Si pesakitan sekarang tengah menikmati penjaranya sendiri, merasakan kehampaan saat lubang yang tercipta di dalam hidupnya muncul karena sebuah kepergian.

Tapi si lelaki juga memilih pergi, segera setelah fakta menyayat hati itu sampai padanya. 

Pesan yang masuk ke dalam ponselnya belum ia balas.

Lalu dipetiklah gitar itu, bukan dengan nada sumbang, apalagi dengan untaian alunan dramatis yang mewakili sayap kanan sang Eros yang patah hingga ia tidak dapat terbang, memabukkan cinta pada sepasang insan, meskipun apa yang tengah berkecamuk di dalam dadanya lebih dramatis ketimbang itu. Petikan gitarnya cepat, tegas, lugas, namun mengiris hati lebih tajam ketimbang lagu-lagu yang dipilih perempuan untuk menemani rasa sakitnya. Dia seorang adam, bukan hawa. Dia memiliki caranya tersendiri untuk menyenandungkan luka.


Bodoh... kamu tentu saja sudah tahu kabar ini. Tapi... maaf, baru mengucapkan itu secara langsung... sekarang. Kalau kamu minta penjelasan, aku akan berikan... aku baru siap untuk memberikan....


Lelaki itu memainkan gitarnya dengan frustasi, mencoba meredam segala jenis pertanyaan tentang gadisnya, yang memutuskan hubungan dengan dirinya dan selang beberapa bulan kemudian mengikrarkan diri mengikat janji dengan pria lain. Pria lain...

Kenapa kau pergi?

Gadis yang terpaut lima tahun lebih tua darinya itu pernah mengatakan bahwa, usia yang terbentang hanyalah bilangan angka. Untuk apa merisaukan perbedaan umur jika hati sudah melebur? Ya. Untuk apa. Sebuah pertanyaan yang memiliki jawaban sama dengan banyak pertanyaan lain yang menyerbunya di dalam kepala.


Petikan gitar makin kencang meskipun nadanya tetap harmonis. Suara baritonnya tegas, nyaris sumbang untuk meredam suara-suara yang mulai menjajah pikirannya. Sesekali lirikan matanya beralih ke tab percakapan yang dibiarkannya terbuka.

Arga... pulanglah. Papamu mengkhawatirkan dirimu. Maafkan aku. Maafkan kami.

Dia adalah peselancar yang mendadak lemah. Pilihan apa yang bisa dilakukan olehnya selain menaklukkan ombak dengan gagah ataukah dia akan terseret ombak dan terbawa ke lepas pantai? Akhirnya toh dia menyerah kalah. Ke manapun ia melangkah, kenangan akan gadisnya akan tetap ada, bagaikan jejak-jejak kaki yang ditinggalkan di atas bumi. Kini, dia akan tetap mengenang si pemilik senandung, ratu yang pernah bertakhta dalam kerajaan di mana dialah sang abdi, bahkan budak yang dengan setia melayani. Sang ratu akan bersanding dengan raja. Dan raja itu bukanlah dirinya.

Yang dibutuhkan seorang lelaki patah hati hanyalah waktu. Dan baginya sebuah senandung yang digetarkan dengan lirih.

Nanti aku pulang.

Tangannya bergetar untuk mengetikkan sebuah pesan.

Mama.

Semoga kau temukan apa yang kaucari. Yang tak kaudapatkan dari aku.

Aku harus membiasakan panggilan itu mulai sekarang, bukan?

Karena gadis itu akan menjadi ratu dalam singgasana kerajaan ayahnya.

Obrolan Pagi




Tiba-tiba saja kau bertanya padaku, "Sejak kapan kau mencintaiku?"

Aku hanya membutuhkan tiga menit untuk memberitahumu, barangkali tiga puluh menit jika kau menginginkan penjelasan, sekaligus memberi ruang padaku untuk bernostalgia. Tapi kita sama-sama tidak menyadari, ada selang tiga tahun bagi kita untuk sama-sama menyadari, bahwa kita ditakdirkan saling melengkapi, bahwa ternyata, selain ada kata "aku" dan "kau", kita membutuhkan "kita" untuk mengikatnya bersama.

Aku memutar mata, memamerkan senyum misterius untuk memancing rasa penasaranmu. Sejak kapan aku mencintaimu? Benarkah kau ingin tahu?

"Pertama...," aku memberi jeda dengan mencari-cari kedua bola matamu dan menatapnya tajam. Oh, pengakuan ini sejujurnya tidak akan pernah bisa kulafalkan sebelumnya. Tapi, bukankah kau juga harus tahu, sejak kapan aku mulai mengubah frasa "teman" menjadi naik level ke sesuatu yang membutuhkan pengorbanan lebih dari sekadar menjadikanmu sebagai teman? "Saat aku pernah mengeluh padamu ketika aku sedang sakit. Kau tahu apa komentarmu waktu itu? Sudah saatnya kamu butuh suami."

"Oh," reaksimu, namun dengan jelas aku melihatmu mengalihkan pandangan padaku seperti sedang berpikir. "Setahun yang lalu?" tanyamu mengonfirmasi.

"Sepertinya begitu. Dan kurasa, kamu cuma bercanda waktu itu, kan?" Aku membalikkan tanya sambil tertawa. "Aku tahu kamu bagaimana."

Kamu ikut tertawa bersamaku.

"Kedua?"

"Kedua, saat kau menghilang tanpa jejak dan sama sekali tidak meninggalkan pesan. Dan aku adalah orang pertama yang kau hubungi kembali. Mungkin bagimu itu hanya sesuatu, tapi bagiku adalah segalanya." Ya Tuhan, jantungku mendentum saat pengakuan barusan itu kusampaikan.

"Kau memarahiku saat itu--"

"--karena kau tidak tahu betapa khawatirnya aku."

Kau menghela napas panjang, sambil mencuri pandang dengan tersenyum yang langsung kutangkap pandangan itu lalu menguncinya.

"Maaf."

"Kau sudah mengucapkannya waktu itu. Dan kurasa, memang tidak ada yang harus dimaafkan."

"Dan yang ketiga?"

"Sekarang..., dan untuk selamanya."

Kau terdiam, dan kembali memasang senyum yang lebih tulus dari sebelumnya, atau bahkan lebih tulus ketimbang senyum manapun yang pernah kau pamerkan kepadaku. 

Aku ikut tersenyum bersamamu. Meskipun, aku tahu 'selamanya' bukanlah kata yang dengan jujur mampu aku pertanggungjawabkan setelah ini. Aku tahu, akan ada masanya ketika aku merasa lelah untuk mencintaimu, bahkan ketika aku berusaha dengan sekuat tenagaku. Akan ada saat ketika musim semi yang paling indah berganti dengan musim dingin yang paling mencekam. Bunga-bunga yang pernah bersemi itu tertutup salju dan tertimbun badai dalam suhu terendah sepanjang yang aku bisa tahan. Tapi, aku akan setia menunggu musim menghangat, masa di mana kata cinta akan menjadi atmosfer kembali hingga aku mampu menghirupnya bersamamu. Tapi kata 'sekarang' yang baru saja kuucapkan, adalah sebuah kejujuran yang mampu kuungkapkan, sejujur matahari yang tengah menyinari pagi kita, menyusup malu-malu melalui celah jendela.

_____
Source pict, edited by me

Kopi Anti Mimpi




“Jadi, siapa yang kaubunuh kemarin malam?” ucap lelaki itu, sambil meletakkan secangkir kopi hitam ke hadapanku.

“Orang kedua,” jawabku sembari memamerkan gigi putihku yang berderet rapi. “Hmmm,” aku menghidu aroma kopi yang memanjakan indera penciumanku. “Kopi Aceh?” tebakku asal.

“Toraja,” ralatnya. "Coba rasakan lagi aromanya. Ini tidak sepekat kopi Aceh. Kopi Toraja wanginya lebih membumi. Seperti tanah yang baru saja tersiram hujan."

"Aaah. Oke," jawabku, dengan decak kagum yang tampak dari rona wajahku. Padahal, bukan kali pertama ini aku terpesona dengan caranya mendeskripsikan kopi. 

Lelaki itu duduk di kursi kosong di hadapanku, membiarkanku sejenak terhipnotis dengan minuman yang tengah kureguk, tanpa ada interupsi. Benar juga, setelah diminum baru terasa perbedaan antara keduanya. Kopi Toraja terasa lebih asam, sementara kopi Aceh memiliki rasa yang lebih pahit.

"Ya, asamnya terasa menyenangkan. Andai saja getirnya kehidupan bisa dinikmati seperti ini," kataku. "Astaga, sejak kapan aku jadi mirip seperti kamu begini." 

Dia tertawa.

"Kamu harus merasakan kopi Kintamani. Supaya kautahu bahwa kopi tidak selamanya pahit dan getir. Ada perpaduan jeruk dan kopi arabika yang membuat hidup tidak hanya tentang hitam pekat dan pahit getir semata."

"Ya Ben. Kapan-kapan," elakku. Ben tahu benar kalau aku tidak akan mau meminum kopi jenis itu meskipun aku tidak akan pernah menceritakan alasannya padanya.

Pikiranku jadi mengelana saat di mana pertama kali aku bertemu dengan Ben. Sebelum kejadian malam itu, aku bukanlah pencinta atau penikmat kopi. Tapi perjalanan takdir tidak ada yang bisa menebaknya. Bahkan tersasar di sebuah kedai kopi 24 jam ini pun berkat pintalan takdir yang aku tidak tahu bagaimana kerjanya dan apa maksudnya.

“Siapa tahu di mimpimu setelah ini, kau berhasil membunuh musuhmu dengan kopi,” ujarnya ringan.

Otomatis tawaku muncul lagi, disusul tawa darinya.

“Jadi, dengan apa kaubunuh orang kedua itu?”

“Kau tidak percaya, dengan panah beracun!” jawabku dengan bangga. "Aku merasa keren sekali karena bisa memanah. Tepat sasaran. Di jantungnya. Shoot!"

Aku kembali menyesapkan kopi dengan perlahan, mencoba menikmatinya. Benar-benar menikmati, tidak seperti apa yang kulakukan dua minggu yang lalu, di tempat yang sama, lebih larut malam dari sekarang.

***

Aku datang kemari seperti seseorang yang tengah patah hati, setelah dengan impulsif mengendarai mobilku tengah malam. Seperti orang gila, aku memang tidak bisa membedakan selaput tipis antara waras dan gila, dunia nyata dan mimpi. Satu-satunya yang ada dalam benakku adalah aku harus melarikan diri dari kekejaman mimpi dan trauma yang pernah melingkupi hidupku bertahun-tahun lalu. Tujuanku sebenarnya adalah klub malam yang tidak jauh dari sini. Namun aku menemukan tempat ini, menarikku bagaikan magnet beda kutub yang didekatkan.

Bean and Ben’s Coffee.

“Kopi anti mimpi!” pekikku.

Aku melihat seseorang terkejut dengan kehadiranku. Ada yang salah? Apa aku sudah mirip orang gila? Seorang wanita yang pergi ke tempat ini dengan baju tidur bermotif Hello Kitty dan rambut kusut, barangkali tak perlu kusebutkan juga mata sembap akibat menumpahkan air mata selama satu jam seperti orang kesetanan. Beruntung aku tidak memilih klub malam sebagai persinggahan, karena bisa dipastikan aku akan diusir satpam.

Lelaki itu bergeming sesaat, lalu mempersilakanku duduk di tempat yang agak sepi. Tapi memang tempat ini lumayan sepi di hari kerja dan di jam yang tidak wajar, pukul dua pagi. Hanya ada beberapa orang yang tengah menikmati seduhan kopi dan makanan yang tidak pas untuk disebut hidangan makan malam. Tak lama orang itu kembali datang dengan secangkir kopi hitam pekat, langsung kusambar dan kureguk dalam hitungan menit.

“Satu lagi!”

Pelayan itu—beberapa hari kemudian aku tahu kalau ternyata dialah pemilik tempat ini—datang kembali dengan cangkir kedua.

“Satu lagi!”

Aku seperti kesetanan, kopi itu kuhabiskan dalam waktu singkat. Untungnya pelayan itu cukup cerdas untuk tidak memenuhi permintaan kopi ketigaku. Aku lelah untuk berkonfrontasi, dan yang kulakukan hanyalah menangis lagi. Aku memang seperti orang gila. Namun orang gila satu ini cukup memiliki sedikit kewarasan—barangkali ini adalah upayaku untuk menjaga kewarasan itu sendiri—dengan menceritakan ketakutan yang bersemayam dalam dadaku padanya, orang asing yang tak sengaja kutemui.

“Aku baru saja dilamar.” Aku masih ingat kalimat pembuka obrolan itu. Tapi aku takut, sesuatu dari masa lalu merayap mendatangi kehidupanku lagi, merenggut segala kesadaran yang kupunya, menghantui lebih hitam dan dekat ketimbang bayanganku sendiri. Bahkan, trauma itu menerkamku hingga ke batas mimpi.

“Aku hanya ingin kopi anti mimpi… atau apa pun yang kaupunya yang bisa membuatku terjaga sampai pagi… aku tidak ingin tidur…” Suaraku seperti orang putus asa.

“Yang kau butuhkan hanyalah teman mengobrol, dan secangkir kopi,” jawabnya. “Kau sudah mendapatkan keduanya.”

Keesokan harinya, aku kembali ke tempat yang sama dengan keadaan yang lebih beradab. Begitu pula dengan hari-hari sesudahnya, aku dengan rutin melakukan hal yang sama. Benar kata Ben, aku hanya membutuhkan teman mengobrol. Dalam hal ini, Ben-lah yang paling aman sebagai tempat untuk menampung sedikit beban yang tak perlu orang terdekatku ketahui.

Kami mengobrolkan soal kopi, dia juga bertanya beberapa hal tentangku, seperti apa pekerjaanku. Barangkali dia penasaran bagaimana aku bisa berkeliaran tengah malam berjuang untuk tidak tidur—atau lebih tepatnya, berjuang untuk melelahkan diri hingga tidak membiarkan tidurku disergap oleh mimpi.

“Asisten akuntan,” jawabku, “di perusahaan orangtua. Setidaknya aku bisa mengatur jam kantorku sendiri. Selama beban pekerjaanku selesai tepat waktu, tidak ada yang mempermasalakahkan aku datang ke kantor jam berapa.”

Dan terkadang, pembicaraan berjalan lebih serius. Misalnya, tentang mimpi yang menghantui.

“Kau harus mencoba untuk mengendalikan mimpimu sendiri,” ucapnya, di malam keempat.

Darinya aku mendapatkan penjelasan tentang mengendalikan mimpi. Aku harus menghadapi dan memiliki kendali atas mimpi-mimpi buruk yang sama yang selalu menghantuiku. Aku harus melawan dan berani untuk melakukan itu. Menghindar dari kepahitan hidup tidak akan mengubah apa pun, selain menjadi korosi pada diri.

Ben memberikan nomor telepon seseorang yang mungkin bisa membantuku untuk itu. Aku harus bernapas lega, karena mengetahui bahwa aku tidak sendiri. Ada orang lain yang mengalami gangguan psikologis semacam ini. Tapi, aku juga penasaran. Aku penasaran apakah Ben pernah mengalami hal yang sama dengan yang tengah kuhadapi sekarang. 

“Menurutmu mengapa kedai kopi 24 jam ini tercipta?” tanyanya. “Sejak bertahun-tahun yang lalu, aku merasakan hal yang sama denganmu.”

“Serius?!”

Dia tersenyum hambar dan menatapku lekat. “Bahkan terkadang, sampai saat ini.”

***

“Jadi musuh yang harus kaubunuh sisa satu orang lagi?”

“Ya,” jawabku getir, “dia yang paling menakutkanku.”

“Kalau begitu, selesaikan,” ucapnya.

“Aku pun berharap begitu,” jawabku. “Jadi, untuk malam ini, aku tidak minum kopi dulu.” Aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Baru setengah sepuluh, waktu yang tidak wajar untuk mengunjungi Ben karena biasanya larut malam aku berada di tempat ini. 
Good luck.”

“Kamu juga," ucapku dengan tersenyum. "Hadiahi aku secangkir kopi Kintamani kalau malam ini aku berhasil mengalahkan ketakutanku sendiri."

Ben tersenyum senang. Ia tahu betul kalau selama ini aku tidak pernah mau diberi kopi Kintamani. Aku pun mengelak saat ia bertanya mengapa. Aku hanya mengatakan bahwa, ada hubungannya dengan trauma dan ketakutanku yang muncul akhir-akhir ini.

Aku pamit pulang.

***

Yang kuinginkan sederhana saja, bisa mengendalikan mimpi, juga mengendalikan diriku sendiri dari trauma yang menghantuiku enam tahun yang lalu. Kejadiannya saat aku sedang berlibur di Bali. Aku pernah disekap, mataku ditutup, mulutku dibekap. Di sebuah tempat bekas gudang sembako, keperawananku direnggut oleh tiga pemuda mabuk yang tidak pernah diketahui siapa. Orangtuaku menutup rapat aib ini, tak ada penuntasan secara hukum yang membuat pelaku biadab itu diadili secara pantas. Kehormatanku yang masih tersisa harus dijaga. 

Tapi lamaran Andrew kembali membuatku teringat akan aib itu. Trauma yang berhasil kulalui dan kututupi begitu rapat menguak kembali bersamaan dengan lamaran itu. Bagaimana jika Andrew menolak mempersuntingku jika tahu aku mempunyai masa lalu begitu kelam seperti ini? Bagaimana jika aku tidak mampu memenuhi kebutuhannya hanya karena aku tidak sanggup menghapus segala kenangan buruk yang menimpaku dulu? Dan segala macam 'bagaimana jika' lainnya yang merusak kehidupanku bahkan sampai menghantuiku di dalam mimpi.

Kali ini, aku kembali hadir di tempat ini, tempat di mana kejadian itu berlangsung. Dua dari tiga pelaku sudah kubunuh pada dua mimpi sebelumnya. Sisa satu lagi… aku harus mengakhiri ketakutanku sendiri malam ini.

Peluh melumuri wajahku, sementara tanganku gemetar membawa revolver dengan peluru utuh di dalamnya. Hanya butuh sekali tembakan.

Seseorang datang dari balik pintu, tanganku kueratkan semakin rapat pada senjata yang siap untuk kutembakkan. Dadaku bergemuruh kencang, bahkan dalam mimpi, kutahu aku tengah berjuang sekuat tenaga melawan ketakutan. Orang itu hanyalah perlambang rasa takut yang memenuhi rongga dada. Aku harus menyelesaikannya sekarang juga.

Orang itu semakin mendekat, dalam hati aku menghitung mundur saat-saat di mana senjata ini akan kugunakan.

Tiga… dua…

“Ben?!” pekikku. Aku terkejut, saking terkejutnya, senjataku jatuh ke tanah. Bagaimana bisa aku memimpikan Ben di saat aku tengah berupaya mengendalikan mimpiku untuk membunuh orang terakhir yang memberiku luka psikis ini?

Dan sosok Ben tampil di sana, mendekat, dengan celemek seragam kafenya. Ia membawa secangkir kopi Kintamani, melengkungkan senyumnya yang biasa.